Gerakan Belanja Produk Dalam Negeri

0
254

Jakarta,jendelnews.co.id,Beli Satu Tumbuh Seribu– Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengajak seluruh masyarakat Indonesia dan pegawai Kementerian Perdagangan berbelanja produk-produk buatan Indonesia. Ajakan ini disampaikan melalui “Gerakan Belanja Produk Dalam Negeri” yang berlangsung di Thamrin City, Jakarta, hari ini, Sabtu (7/12).
Turut hadir dalam acara ini Komisaris Utama PT Jakarta Realty Ongky Sukasah, Ketua Asosiasi
Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey, Ketua Himpunan Penyewa Pusat
Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah, serta Ketua Asosiasi Pengelola Pusat
Belanja Indonesia (APPBI) A. Stefanus Ridwan.
“Konsumsi masyarakat terhadap produk dalam negeri dapat memberikan efek domino bagi
penguatan pasar dalam negeri, meningkatkan lapangan kerja bagi masyarakat, dan menjamin
pendapatan pekerja lokal. Untuk itu, saya mengajak Seluruh masyarakat Indonesia berbelanja
produk-produk dalam negeri,” kata Mendag Agus saat membuka acara tersebut.
“Gerakan Belanja Produk Dalam Negeri” merupakan program strategis perdagangan dalam negeri
Kemendag yang terus digencarkan, baik secara luring maupun daring. Kali ini acqra tersebut
digelar Kemendag bekerja sama dengan PT Jakarta Realty selaku pengelola Thamrin City.
Thamrin City merupakan pusat belanja yang konsisten dan menjual produk-produk UMKM
nusantara. Thamrin City juga dikenal sebagai salah satu destinasi pusat perbelanjaan produk
UMKM dari segala penjuru Indonesia. Ada sekitar 1000 pedagang berjualan di sana. Produk-
produk dagangannya seperti batik, tenun, fesyen, busana muslim, dan lain sebagainya.
Mendag Agus juga menyampaikan, produk Indonesia mampu bersaing dengan produk luar.
“Produk buatan Indonesia memiliki karakteristik tersendiri. Selain memiliki kualitas yang baik,
produk Indonesia itu unik dan harganya terjangkau. Tingginya minat berbelanja produk lokal juga
dapat meningkatkan citra dan daya saing produk Indonesia di pasar dalam negeri di tengah
keterbukaan pasar global,” tegas Mendag Agus.
Selain itu, lanjut Mendag Agus, produk-produk dalam negeri, khususnya UMKM kini semakin keren dan menawarkan berbagai keunggulan. Beberapa keunggulan tersebut, antara lain memiliki
material berkualitas dan pengerjaan yang baik, desain yang unik dan beragam, serta harga yang
cenderung lebih terjangkau. Produk UMKM juga memiliki konsep kearifan lokal dari masing-
masing daerah di Indonesia.

Mendag Agus menjelaskan, ajakan berbelanja produk-produk dalam negeri ini bertujuan agar
masyarakat dapat turut andil memperkuat ekonomi bangsa. “Beli satu tumbuh seribu. Begitulah
kira-kira ungkapan yang pas untuk mewakili Gerakan Belanja Produk Dalam Negeri. Artinya,
dengan membeli produk dalam negeri, kita semua telah ikut andil menyelamatkan ekonomi
bangsa. Sesungguhnya ada sumber pendapatan dari ratusan, bahkan ribuan pelaku usaha dan
pekerja Indonesia dari satu produk dalam negeri yang kita beli,” ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Suhanto menyampaikan, gerakan ini
juga bertujuan menumbuhkan kesadaran dan semangat masyarakat agar lebih mencintai produk
Indonesia secara konkret melalui pembelian produk-produk dalam negeri. “Selain itu, juga sebagai
wujud nasionalisme dengan mencintai produk-produk buatan Indonesia. Hal tersebut diharapkan
dapat mendukung eksistensi para produsen dan pengrajin dalam negeri, terutama UMKM dan
menggerakkan perekonomian nasional,” imbuh Suhanto.
Penyelenggaraan kegiatan ini merupakan wujud nyata nasionalisme dan
kebanggaan masyarakat terhadap produk-produk Indonesia. “Dampak dari gerakan ini akan
dirasakan para pelaku UMKM dan dapat mendukung eksistensi produk dalam negeri dan
menggerakkan sektor perdagangan dalam negeri,” imbuhnya.

Tantangan Bonus Demografi
Pada 2019, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mencatat jumlah penduduk
Indonesia telah mencapai ±267 juta jiwa dengan rasio ketergantungan sebesar 45,56 persen. Rasio
tersebut merupakan yang terendah dalam sepuluh tahun terakhir. Artinya, beban yang harus
ditanggung penduduk produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum/tidak produktif
semakin kecil. Sementara itu, jumlah usia produktif pada 2020 diproyeksikan mencapai 68,75
persen dari total populasi.
Mendag Agus menjelaskan, kondisi demografi yang demikian menunjukkan Indonesia sebenarnya
telah memasuki fase bonus demografi yang tentunya memberikan potensi sekaligus tantangan
dalam menunjang perekonomian.
“Dengan populasi Indonesia sebesar saat ini dapat merepresentasikan besarnya potensi konsumsi
dalam negeri yang dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan kewirausahaan dan
penciptaan lapangan pekerjaan. Untuk itu, program-program pemerintah harus difokuskan pada penciptaan lapangan kerja yang seluas-luasnya,” tambah Mendag.

Mendag juga mengungkapkan, upaya menyukseskan gerakan belanja produk dalam negeri ini juga mendapatkan tantangan dari maraknya penjualan produk impor. Tingkat konsumsi bangsa Indonesia yang tinggi merupakan potensi besar bagi para pelaku usaha dari negara lain memasarkan produk-produk barang jadinya, khususnya melalui platform niaga elektronik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here